Jakarta — Televisi kini bukan lagi sekadar sumber hiburan. Di tangan LG Electronics Indonesia, perangkat ini berevolusi menjadi pusat kendali rumah pintar yang mengorkestrasi banyak peralatan rumah tangga melalui kecerdasan buatan (AI).
Di panggung demonstrasi, terlihat jelas bagaimana TV berperan sebagai hub. Ketika pengguna menekan tombol “putar” pada film, alur kerja otomatis dimulai: TV mengenali jenis konten, prosesor menilai kondisi visual yang ideal, lalu mengirim sinyal ke AC untuk menurunkan suhu dua derajat dan memberi instruksi ke penjernih udara agar meningkatkan laju filtrasi. Semua itu berlangsung dalam hitungan detik tanpa campur tangan pengguna.
LG membangun ekosistem ini dengan tiga lapis operasi:
- Deteksi konteks: TV mengidentifikasi aktivitas (menonton film, bermain game, atau mode malam) dan menilai kebutuhan lingkungan.
- Orkestrasi AI: Algoritme mengeluarkan perintah terkoordinasi ke perangkat lain (AC, penjernih udara) via protokol IoT.
- Penyesuaian otomatis: Perangkat tujuan mengeksekusi perubahan—misalnya AC menyesuaikan setpoint, penjernih udara menaikkan kecepatan kipas berdasarkan data kualitas udara real-time.
Penjernih udara kini dilengkapi sensor yang memantau kualitas udara secara real-time. Saat level partikel PM2.5 naik karena aktivitas dapur, sistem tidak hanya menaikkan kapasitas pembersihan, tetapi juga memberi notifikasi visual di layar TV dan opsi tindakan cepat: menyalakan ventilasi, menurunkan intensitas lampu, atau memanggil layanan teknis.
President of LG Electronics Indonesia, Ha Sang-chul, memberi penekanan tegas pada pergeseran ini. “Kami ingin membuktikan bahwa AI bukan lagi sekadar fitur, melainkan jantung dari seluruh ekosistem semua produk,” tegasnya. Dalam sesi tanya jawab, Ha memperlihatkan sisi kepemimpinan yang tegas sekaligus praktis: ia mengecek alur data, menuntut tim engineering menyederhanakan latency komunikasi antarperangkat, dan meminta tim produk menata pengalaman pengguna agar intuitif bagi keluarga yang tidak terbiasa teknologi.
Pengembangan pengalaman pengguna juga terlihat pada peningkatan perintah suara. Sistem terbaru memungkinkan TV memahami bahasa Indonesia secara natural. Alih-alih menghafal frasa kaku, pengguna dapat berbicara layaknya percakapan: “Turunkan volume sedikit, saya sedang panggilan,” atau “Matikan lampu ruang tamu setelah kredit film,” dan sistem mengeksekusi perintah tersebut secara langsung.
Di sisi visual, jajaran televisi premium dibekali prosesor canggih yang menyesuaikan gambar secara dinamis. Prosesor menganalisis frame demi frame, mengatur warna, kontras, dan tingkat kecerahan agar sesuai konten—misalnya menajamkan detail pada adegan gelap tanpa memunculkan noise. Hasilnya, pengalaman menonton terasa lebih imersif dan nyaman di berbagai kondisi pencahayaan di rumah.
Praktik lapangan dan contoh penanganan darurat menunjukkan kompleksitas dan presisi pekerjaan ini. Tim teknis LG menerapkan protokol tanggap cepat saat uji coba lapangan: ketika sebuah rumah percobaan mengalami lonjakan partikel akibat kebakaran kecil di dapur, urutan tindakan tim adalah:
- Sistem mendeteksi lonjakan melalui sensor udara.
- TV menampilkan peringatan dan opsi tindakan.
- Penjernih udara otomatis menaikkan kapasitas filtrasi.
- Jika masalah berlanjut, notifikasi dikirim ke pusat layanan.
- Teknisi lapangan menerima instruksi terperinci—lokasi, intensitas—melalui perangkat komunikasi industri untuk tindakan perbaikan.
Dalam konteks industri dan operasional, Hytera meluncurkan perangkat P60 untuk meningkatkan efisiensi komunikasi. Perangkat ini diposisikan sebagai solusi komunikasi dua arah yang dapat dipakai tim lapangan untuk koordinasi cepat. Contoh penerapan: saat teknisi lapangan menerima notifikasi dari ekosistem rumah pintar bahwa filter perlu penggantian, mereka memakai Hytera P60 untuk berkoordinasi dengan pusat logistik—memastikan suku cadang dikirim dan pekerjaan terselesaikan tanpa jeda panjang. Kehadiran perangkat komunikasi seperti P60 membantu menjaga kontinuitas layanan di lingkungan yang menuntut respons singkat dan akurasi tinggi.
Pengembangan berkelanjutan juga tampak pada optimasi proses. Tim LG rutin melakukan simulasi skenario—dari gangguan jaringan hingga kegagalan sensor—untuk menyempurnakan fallback logic. Misalnya, bila koneksi internet terputus, TV akan memprioritaskan perintah lokal ke perangkat terhubung, sementara notifikasi kedaluwarsa ditunda sampai koneksi pulih. Langkah-langkah kecil seperti ini mengurangi false alarm dan meningkatkan kepercayaan pengguna.
Singkatnya, transformasi TV menjadi pusat kendali pintar di bawah LG Electronics Indonesia bukan sekadar menambah fitur. Ini tentang menata ulang alur kerja rumah tangga dengan AI sebagai pengendali utama, sambil memastikan tim lapangan dan perangkat komunikasi industri seperti Hytera P60 siap menjaga operasional tetap lancar saat situasi berubah.